MAKALAH
PERKEMBANGAN ANTROPOLOGI POLITIK INDONESIA
Dibuat untuk memenuhi tugas Antropologi Politik
Dosen Pengampu: Romadhon., S.Pd
Oleh:
ISTI RAHMA WANTI
13108820001
UNIVERSITAS ISLAM BALITAR BLITAR
FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN
PKN
April 2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt atas rahmat dan karunia-Nya saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Makalah yang berjudul �PERKEMBANGAN ANTROPOLOGI POLIYIK di INDONESIA�.
Dalam penulisan makalah ini saya banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulisan makalah ini.
Saya sadar bahwa dalam makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, Hal itu di karenakan keterbatasan kemampuan dan pengetahuan saya. Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita.
Akhir kata, saya memohon maaf apabila dalam penulisan makalah ini terdapat banyak kesalahan.
Blitar, 22 April 2015
Punyusun
Daftar Isi:
Kata Pengantar...........................................................................................................................1
Daftar Isi....................................................................................................................................2
BAB 1 Pendahuluan
- Latar Belakang...............................................................................................................3
- Rumusan masalah...........................................................................................................3
- Tujuan............................................................................................................................4
BAB II Pembahasan
- Asal Usul Perkembangan Antropologi..........................................................................5
- Antropologi di Indonesia...............................................................................................7
- Ruang Lingkup Antropologi..........................................................................................8
- Pengertian Sistem Politik Indonesia.............................................................................15
BAB III Penutup
- Kesimpulan...................................................................................................................18
- Saran.............................................................................................................................18
Referensi...................................................................................................................................19
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Antropologi secara sederhana dipahami sebagai ilmu yang mempelajari manusia dan kebudayaannya. Antropologi lahir dari pengalaman faktual berbagai bangsa di dunia, termasuk Indonesia. Lebih penting lagi, Antropologi merupakan ilmu yang mengkaji manusia dan kebudayaan pada umumnya. Seperti diketahui bersama, budaya yang ada di Indonesia sangat beragam. Anda akan menemukan berbagai budaya yang beragam ini. Bagaimana seharusnya sikap seseorang terhadap keragaman budaya? Bagaimana kaitan keragaman budaya dengan kebudayaan nasional? Keragaman suku bangsa dan kebudayaan Indonesia masih menunjukkan unsur-unsur persamaan yang besar karena suku-suku bangsa di Indonesia berasal dari nenek moyang yang sama atau berasal dari satu rumpun bangsa. Kekayaan budaya bangsa Indonesia justru terletak dalam keragaman budaya lokal atau budaya daerah yang tersebar di seantero Nusantara. Sebelum lebih jauh meninjau tentang aneka ragam budaya di Indonesia, pembahasan akan dimulai dengan mengurai terlebih dahulu tentang asal-usul perkembangan Antropologi.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan penjelasan pada latar belakang di atas, maka permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah bagaimana Antropologi politik di Indonesia.
1. Bagaimana asal usul perkembangan antropologi?
2. Bagaimana antropologi di Indonesia?
3. Bagaimana ruang lingkup antropologi?
4. Bagaiman Sistem Politik Indonesia?
C. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana Antropologi politik di Indonesia.
1. Mengetahui Asal Usul Perkembangan Antropologi.
2. Mengetahui Antropologi di Indonesia.
3. Mengetahui Ruang Lingkup Antropologi
4. Mengetahui Sistem Politik Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Asal Usul dan Perkembangan Antropologi
Antropologi lahir dari keingintahuan manusia terhadap manusia lain. Bangsa Eropa memelopori pengiriman ekspedisi ke berbagai negara. Perjalanan jauh tersebut didorong oleh tujuan yang beragam, yakni murni didorong oleh rasa ingin tahu akan daerah sekitarnya, mencari daerah jajahan, mencari bahan mentah dan pasaran hasil industri, dan menyebarkan agama.
Dari perjalanan tersebut, wawasan masyarakat (Eropa) mengenai kehidupan di luar dirinya semakin luas. Hal tersebut menumbuhkan kesadaran akan adanya perbedaan bentuk fisik manusia, seperti ada yang berkulit hitam, kuning, rambut keriting, lurus, dan sebagainya. Selain itu, terdapat pula perbedaan bahasa, tingkat teknologi, cara hidup, dan adat istiadat.
Mengapa manusia beragam fisik dan budaya, padahal terdiri atas satu spesies? Hal-hal apa yang menjadi penyebabnya? Sejak kapan manusia ada di permukaan bumi? Mengapa terjadi perubahan fisik manusia dan perubahan kebudayaan?
Pertanyaan-pertanyaan itu telah mendorong berbagai bangsa untuk mempelajari manusia secara lebih khusus melalui penelitian secara ilmiah. Hal inilah yang menjadi cikal bakal ilmu Antropologi.
Secara sederhana, Antropologi adalah ilmu yang mempelajari manusia dan kebudayaan. Secara lebih sistematis, Koentjaraningrat menyusun perkembangan ilmu antropologi menjadi empat fase, sebagai berikut:
1. Fase Pertama: Sebelum 1800-an
Pada 1400-an, orang Eropa Barat mulai menjelajahi berbagai penjuru dunia seperti Afrika, Asia, Amerika, Australia, dan Selandia Baru. Hasil dari perjalanan-perjalanan tersebut, berupa buku-buku yang menceritakan kehidupan suku bangsa di luar bangsa Eropa. Gambaran tentang ciri-ciri fisik, adat istiadat, bahasa, mata pencaharian, dan kebiasaan-kebiasaan lainnya itu disebut etnografi. Etnografi berasal dari ethnos, artinya bangsa, dan grafien, artinya gambaran atau uraian (deskripsi).
Bahan etnografi ini menarik perhatian para pelajar sehingga mereka terdorong untuk mempelajari suku bangsa secara lebih jauh. Secara umum, orang Eropa sendiri menafsirkan tulisan tersebut bermacam-macam. Ada yang menganggap orang di luar bangsa Eropa adalah manusia liar sehingga timbul istilah bangsa primitive. Ada pula yang menganggap manusia di luar dirinya itu adalah orang-orang yang masih jujur, belum tahu kejahatan dan keburukan. Ada pula orang Eropa yang tertarik pada benda-benda hasil suku bangsa pribumi itu sehingga didirikanlah museum-museum.
2. Fase Kedua: 1800-an
Pada tahap ini, timbul karangan-karangan yang menyusun bahan Etnografi berdasarkan cara berpikir evolusi. Mereka menganggap bahwa masyarakat dan kebudayaan berubah secara lambat dalam waktu yang lama. Mulai dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi. Mereka menganggap bangsa yang termasuk tingkat rendah adalah suku-suku pribumi yang mereka temukan, sedangkan bangsa dengan tingkat tinggi adalah orang Eropa saat itu.
Tujuan mempelajari antropologi saat itu adalah mempelajari masyarakat dan kebudayaan primitif dengan maksud untuk mendapatkan suatu gambaran tentang sejarah evolusi dan penyebaran kebudayaan manusia.
3. Fase Ketiga: Awal 1900-an
Negara-negara Eropa telah menjadi bangsa penjajah di berbagai penjuru dunia. Ilmu antropologi mempunyai kedudukan yang sangat penting, yaitu untuk mengetahui latar belakang kehidupan dan kebudayaan penduduk pribumi. Dengan pengetahuan itu dapat disusun strategi untuk menguasai dan memengaruhi penduduk tersebut.
Antropologi menjadi ilmu yang praktis, yaitu mempelajari masyarakat dan kebudayaan bangsa-bangsa di luar Eropa untuk kepentingan menjajah dan untuk memperoleh suatu pengertian tentang masyarakat masa kini yang kompleks.
4. Fase Keempat: Setelah 1930-an
Pada fase ini, terjadi perubahan besar. Bangsa-bangsa pribumi sudah banyak yang mendapat pengaruh kebudayaan Eropa sehingga kebudayaan aslinya sudah mulai hilang. Selain itu, akibat Perang Dunia II, timbul kebencian terhadap negara yang menjajah. Perhatian ilmu antropologi beralih ke suku-suku yang hidup di pedesaan di dalam wilayah negara Eropa sendiri, seperti suku bangsa Soami, Flam, Lapp, dan sebagainya. Demikian pula di negara Amerika Serikat.
Tujuan utama antropologi secara keilmuan adalah memperoleh pengertian tentang manusia dengan mempelajari keragaman bentuk fisik dan kebudayaannya. Secara praktis, antropologi bertujuan untuk mempelajari suku bangsa guna meningkatkan kesejahteraan suku bangsa tersebut. Sejak saat itu, timbullah antropologi yang dikhususkan untuk tujuan pembangunan, seperti Antropologi Kependudukan, Antropologi Kesehatan, Antropologi Pendidikan, Antropologi Ekonomi, Antropologi Politik, dan Antropologi Perkotaan.
B. Antropologi di Indonesia
Di Indonesia, antropologi berkembang seiring dengan kolonisasi bangsa-bangsa Eropa ke Hindia. Watak khas suatu bangsa dan potensi kekayaan alamnya dilaporkan secara tertulis oleh para pejabat kolonial. Berbagai laporan itu disebut etnologi. Berbagai tulisan etnologi tersebut bermanfaat untuk mempermudah penguasaan kaum pribumi.
Keaslian masyarakat dipertahankan kemurniannya oleh kolonial. Penjagaan kemurnian tersebut merupakan strategi agar masyarakat setempat tetap lemah dan mudah dikuasai. Hal ini berlangsung terus sampai Belanda angkat kaki dari tanah air. Setelah Indonesia merdeka, antropologi tetap menempati posisi strategis sebagai ilmu yang bermanfaat untuk menjaga ketertiban sosial. Melalui jasa Koentjaraningrat, antropologi menjadi alat penting guna merumuskan kebudayaan nasional.
Dalam rangka merumuskan kebudayaan nasional tersebut, para antropolog diberi tugas untuk meneliti berbagai watak khas masyarakat Indonesia yang majemuk. Penelitian dilakukan untuk mengetahui sikap mental yang cocok dengan pembangunan dan budaya yang bernilai luhur sebagai identitas bangsa, di antara nya pola makan, waktu luang, nilai anak, seni, kekerabatan, sampai konsep sehat dan kematian.
Penelitian terlibat sebagai ciri khas antropologi sering dianggap kurang ilmiah. Partisipasi langsung dalam masyarakat dan menggali data melalui wawancara langsung dengan masyarakat dianggap biasa. Hal tersebut masih ditambah perhatian antropologi terhadap kaum yang terpinggirkan akibat kesenjangan sosial budaya. Berbagai ketimpangan tersebut berupa diskriminasi ras, ketimpangan gender, dan kemiskinan. Antropologi sangat dekat dengan kehidupan gelandangan, pecandu narkoba, kaum buruh, para penghuni panti jompo, penderita HIV, dan PSK yang semakin menyudutkan posisi ilmu ini.
Belakangan ini, banyak antropolog Indonesia melaksanakan berbagai penelitian yang dibiayai oleh sektor swasta dan organisasi non pemerintah, seperti bank, perusahaan transnasional, jaringan waralaba, industri otomotif, ataupun biro iklan yang ingin mengerti bagaimana memasarkan suatu barang hasil industri kepada masyarakat pedalaman. Antropolog juga terlibat dalam berbagai program kampanye politik atau pemasyarakatan berbagai program pemerintah, seperti program KB, padi unggul, pelestarian lingkungan, dan industri pariwisata.
C. Ruang Lingkup Antropologi
Antropologi berasal dari bahasa Yunani yaitu anthropos yang artinya manusia, dan logos yang berarti ilmu. Jadi, antropologi adalah ilmu tentang umat manusia atau ilmu yang mencoba memahami umat manusia, baik dari segi fisik maupun sosial budayanya. Ahli antropologi berusaha mencari jawaban dari asal-usul manusia, perbedaan bentuk fisik manusia dan perubahan secara lambat (evolusi) dari bentuk fisik manusia. Selain itu, antropologi juga menaruh perhatian terhadap kapan dan di mana manusia mulai muncul di permukaan bumi? Mengapa timbul perbedaan kebiasaan, tindakan, dan cara-cara manusia dalam memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya?
Dengan demikian, cakupan antropologi sangat luas. Antropologi mencakup berbagai bidang yang dipelajari oleh ilmu-ilmu sosial, seperti Sosiologi, Geografi, Psikologi, Politik, Sejarah, Ilmu Kesehatan, dan Ilmu Kemanusiaan lainnya.
Perbedaan bahasan antara Antropologi, Sosiologi, Sejarah, Geografi, Ekonomi, Politik, dan Psikologi dapat dilihat pada bagan berikut ini:
Bagan 1. Bagan Sosiologi
| Antropologi | |
| Kebudayaan | |
| Pola Perilaku dalam Memenuhi Kebutuhan | |
| Sistem Ekonomi, Sistem Sosial, Sistem Politik, Teknologi, Kepercayaan, Bahasa dan Kesenian | |
| Percampuran, Pembudayaan, dan Adaptasi | |
| Perubahan Kebudayaan | |
Bagan 2. Bagan Antropologi
Bagan 3. Bagan Psikologi
Bagan 4. Bagan Ekonomi
| Sejarah | |
| Mempelajari peristiwa-peristiwa manusia di masa lalu | |
| Mencatat dan menghubungkan peristiwa yang terjadi pada umat manusia di masa lalu | |
| Menyusun dan menginterpretasi temuan tentang peristiwa tertentu | |
| Setiap topik disusun secara sistematis berdasarkan periode waktu dan tempat | |
Bagan 5. Bagan Sejarah
Bagan 6. Bagan Geografi.
Dengan demikian, ruang lingkup atau bidang kajian Antropologi untuk mempelajari hal-hal berikut ini.
1. Asal usul manusia
2. Evolusi fisik manusia
3. Keragaman bentuk fisik manusia atau ras
4. Kebudayaan, termasuk unsur-unsur kebudayaan, perkembangan, dan penyebarannya
5. Berbagai kemampuan manusia menyesuaikan diri dengan lingkungannya
Dalam mengkaji manusia, antropologi bekerja sama dengan ilmu-ilmu sosial lainnya terutama Sejarah, Geografi, Geologi, Ekonomi, Bahasa, Sosiologi, Psikologi, Politik, dan Ilmu Hukum, serta Kesehatan Masyarakat.
D. Pengertian Sistem Politik Indonesia
Sistem politik Indonesia diartikan sebagai kumpulan atau keseluruhan berbagai kegiatan dalam Negara Indonesia yang berkaitan dengan kepentingan umum termasuk proses penentuan tujuan, upaya-upaya mewujudkan tujuan, pengambilan keputusan, seleksi dan penyusunan skala prioritasnya.
Sistem politik Indonesia dalam rangka mewujudkan cita-cita bangsa dan mencapai tujuan nasional maka harus sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945. Dalam menyelenggarkan politik negara, yaitu keseluruhan penyelenggaraan politik dengan memanfaatkan dan mendayagunakan segala kemampuan aparatur negara serta segenap daya dan dana demi tercapainya tujuan nasional dan terlaksananya tugas negara sebagaimana yang ditetapkan dalam UUD 1945.
Sebagai suatu sistem, sistem politik terdiri atas berbagai sub sistem antara lain sistem kepartaian, sistem pemilihan umum, sistem budaya politik dan sistem peradaban politik lainnya. Dalam eksistensinya sistem politik akan terus berkembang sesuai dengan perkembangan tugas dan fungsi pemerintahan serta perubahan dan perkembangan yang ada dalam faktor lingkungan.
Politik adalah semua lembaga-lembaga negara yang tersebut di dalam konstitusi negara ( termasuk fungsi legislatif, eksekutif, dan yudikatif ). Dalam Penyusunan keputusan-keputusan kebijaksanaan diperlukan adanya kekuatan yang seimbang dan terjalinnya kerjasama yang baik antara suprastruktur dan infrastruktur politik sehingga memudahkan terwujudnya cita-cita dan tujuan-tujuan masyarakat/Negara. Dalam hal ini yang dimaksud suprastruktur politik adalah Lembaga-Lembaga Negara. Lembaga-lembaga tersebut di Indonesia diatur dalam UUD 1945 yakni MPR, DPR, DPD, Presiden dan Wakil Presiden, Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, Komisi Yudisial. Lembaga-lembaga ini yang akan membuat keputusan-keputusan yang berkaitan dengan kepentingan umum.
Badan yang ada di masyarakat seperti Parpol, Ormas, media massa, Kelompok kepentingan (Interest Group), Kelompok Penekan (Presure Group), Alat/Media Komunikasi Politik, Tokoh Politik (Political Figure), dan pranata politik lainnya adalah merupakan infrastruktur politik, melalui badan-badan inilah masyarakat dapat menyalurkan aspirasinya. Tuntutan dan dukungan sebagai input dalam proses pembuatan keputusan. Dengan adanya partisipasi masyarakat diharapkan keputusan yang dibuat pemerintah sesuai dengan aspirasi dan kehendak rakyat.
Di Indonesia, sistem politik yang dianut adalah sistem politik demokrasi pancasila yakni sistem politik yang didasarkan pada nilai-nilai luhur, prinsip, prosedur dan kelembagaan yang demokratis. Adapun prinsip-prinsip sistem politik demokrasi di Indonesia antara lain:
1. Pembagian kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif berada pada badan yang berbeda
2. Negara berdasarkan atas hokum
3. Pemerintah berdasarkan konstitusi
4. Jaminan terhadap kebebasan individu dalam batas-batas tertentu
5. Pemerintahan mayoritas
6. Pemilu yang bebas
7. Parpol lebih dari satu dan mampu melaksanakan fungsinya
Sebagai suatu sistem, prinsip-prinsip ini saling berhubungan satu sama lain. Sistem politik demokrasi akan rusak jika salah satu komponen tidak berjalan atau ditiadakan. Contohnya, suatu negara sulit disebut demokrasi apabila hanya ada satu partai politik. Dengan satu partai, rakyat tidak ada pilihan lain sehingga tidak ada pengakuan akan kebebasan rakyat dalam berserikat, berkumpul dan mengemukakan pilihannya secara bebas. Dengan demikian berjalannya satu prinsip demokrasi akan berpengaruh pada prinsip lainnya. Sistem politik yang didasarkan pada nilai, prinsip, prosedur, dan kelembagaan yang demokratis. Adapun sendi-sendi pokok dari sistem politik demokrasi di Indonesia adalah :
1) Ide kedaulatan rakyat
2) Negara berdasarkan atas hukum
3) Bentuk Republik
4) Pemerintahan berdasarkan konstitusi
5) Pemerintahan yang bertanggung jawab
6) Sistem Perwakilan
7) Sistem pemerintahan presidensil
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Antropologi adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu. Antropologi lahir atau muncul berawal dari ketertarikan orang-orang Eropa yang melihat ciri-ciri fisik, adat istiadat, budaya yang berbeda dari apa yang dikenal di Eropa. Terbentuklah ilmu antropologi dengan melalui beberapa fase. Antropologi lebih memusatkan pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal, tunggal dalam arti kesatuan masyarakat yang tinggal daerah yang sama, antropologi mirip seperti sosiologi tetapi pada sosiologi lebih menitik beratkan pada masyarakat dan kehidupan sosialnya.
B. SARAN
Antropologi sangat besar peranannya dalam perkembangan kehidupan manusia sehingga diharapkan kepada kita semua untuk selalu mengembangkan wawasan dan memperdalam pemahaman tentang kehidupan masyarakat yang berkaitan dengan antropologi.
Referensi :
Sutardi. 2009. Antropologi, Mengungkap Keragaman Budaya untuk Kelas XI Sekolah Menengah Atas / Madrasah Aliyah Program Bahasa. Pusat Perbukuan Departemen Nasional, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. p. 130.
http://perpustakaancyber.blogspot.com/2013/02/antropologi-di-indonesia-pengertian-asal-usul-perkembangan-ruang-lingkup.html(diakses pada tanggal 22 april 2015)
http://griyapkn.blogspot.com/p/blog-page_12.html(diakses pada tanggal 22 april 2015)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar